021 53164806
Mempelajari Komputasi masa depan,Internet of Bio Nano Things mungkinkah terjadi ?

Mempelajari Komputasi masa depan,Internet of Bio Nano Things mungkinkah terjadi ?

Perangkat komputasi yang diciptakan secara biologis suatu hari nanti akan menjadi biasa seperti mikroprosesor dan microchip
sekarang ini banyak sekali beberapa pengembang percaya bahwa ini bisa di implementasikan
Karena pertimbangkan DNA sebagai pembawa informasi genetik dan komponen utama kromosom
yang menunjukkan sebuah kompetensinya sebagai media penyimpanan data.

Baru-baru ini,sebuah studi (Download Pdfnya Di sini) malah menindak lanjuti sebuah masalah terhadap penelitiannya
dengan menggunakan mikroba untuk jaringan dan komunikasi dengan frekuensi skala nano
hal ini bisa menjadi peluang bagi perangkat IoT (internet of things)
supaya tampilan menjadi lebih minimalis bahkan tak terlihat tapi bisa di bawa atau di taruh di manapun kita mau.

Ada plus minus dari perangkat jenis ini kalau memang ter-realisasi
plus nya adalah karena versi organiknya mencakup dengan ukurannya yang sangat kecil
tapi sifat dari bakteri yang melekat secara propulsi dan mandiri itu
karena kalau perangkat ini melekatkan sebuah baling-baling motor
bakteri ini bisa di perintah sesuai dengan fungsi umum pemrograman
seperti berenang,berkembang biak,bertemu dan berpisah.


Sebagaimana sumber yang di kutip dari situs resmi Universitas Queen Mary
bahwa penelitian yang awalnya di mulai dari sana,mereka menjelaskan bahwa secara dominan
antara bakteri dan komputasi dapat di eksploitasi
sampai saat ini kami,sebagai penggiat sistem komputer juga belum memahami detail
mengenai cara kerjanya.

"The microbes share similarities with components of typical computer IoT devices," tulis Raphael Kim dan Stefan Posland dalam makalah mereka yang diterbitkan pada subjek.
"This presents a strong argument for bacteria to be considered as a living form of Internet of Things (IoT) device."

Environment IoT cukup menarik di pelajari karena manfaatnya
contoh beberapa di kota-kota modern yang telah mengaplikasikan smart city
semisal bakteri dari air yang di saring,akan di program untuk mendeteksi polutan
sejatinya mikroba yang memiliki fungsi sensor secara kimiawi dan berfungsi lebih responsif dari pada sensor elektronik
seperti yang telah tertulis di beberapa penilitian,banyak yang mengatakan
bahwa mikroba memiliki kemampuan penginderaan, penggerak, komunikasi
dan pemrosesan yang sama dengan yang dimiliki oleh IoT yang terkomputerisasi.

Dalam hal pengindraan dan pengaktifan, bakteri dapat mendeteksi bahan kimia, medan elektromagnetik, cahaya
mekanikal pressure dan temprature,cukup memprogram ulang dengan PLC dan circuit board berbasis sensor
dimana mikroba akan merespons dan menghasilkan dna berwarna.

Dan tidak hanya itu, mereka merespons dengan cara yang lebih bernuansa dibandingkan dengan sensor berbasis chip.
Mereka bisa lebih sensitif, sebagai salah satu contoh.

DNA yang disebutkan di atas, yang dibangun menjadi bakteri, berfungsi sebagai control-unit,baik untuk memproses dan menyimpan data.
DNA genomik akan berisi instruksi untuk beberapa fungsi, dan plasmid - yang merupakan bentuk lain
dari DNA yang terkait dengan bagaimana gen masuk ke organisme - menyesuaikan fungsi proses melalui penambahan dan pengurangan gen.

Jaringan juga dibahas. Transceiver juga dalam bakteri IoT yang dapat membawa dan mengeluarkan molekul
akan bekerja sebagai jalur signal, dan pertukaran DNA antara dua sel dapat terjadi.
dalam hal ini dapat di katakan sebagai "komunikasi molekuler" dan digambarkan sebagai jaringan bakteri.

Sama halnya dengan IoT yang telah terdistribusi dan di gunakan banyak perusahaan masa kini
dengan mikrokontroler Arduino dan komputer mini pendidikan Raspberry Pi
para ahli berpendapat bahwa itu akan menjadi subssitem biotekno
yang menjalankan IoT secara standalone yang akan memulai era IoBNT.

Mereka menunjukkan bahwa produk pendidikan yang mudah didapat seperti kit Amino Labs
sudah memungkinkan pembentukan warna spesifik dari bakteri, misalnya.

Lalu,apabila bakteri bisa di implementasikan,dan di exploitasi
apakah bisa di gunakan sebagai senjata biologis untuk menyerang manusia?

Share This

Comments